Jakarta, Wartanusantaradigital.com – Suasana duka yang mendalam menyelimuti prosesi pemakaman almarhum Nusye Resye Dahoklory yang berlangsung dengan penuh khidmat dan penghormatan. Ratusan jemaat gereja, tokoh gereja, masyarakat, serta keluarga besar Daisuli hadir memberikan penghormatan terakhir sekaligus menguatkan keluarga yang ditinggalkan.
Ibadah dan doa pemakaman dipimpin oleh Pendeta Semuel Blegur yang menyampaikan firman Tuhan serta doa penghiburan yang meneguhkan hati keluarga. Turut hadir dalam pelayanan ibadah tersebut Ibu Pdt. Sarah Blegur serta Pdm. Semuel Blegur.

Kehadiran lintas denominasi gereja menunjukkan luasnya relasi dan persahabatan almarhum semasa hidupnya. Jemaat yang hadir berasal dari Gereja Katolik Santo Fransiskus Xaverius, Gereja Kristen Getsemani, Jemaat Hosea, GBI Rezing yang digembalakan oleh Pdt. Edisi Wun, serta Gereja Kemah Injil Indonesia Jemaat Soli Deo yang digembalakan oleh Ibu Pdt. Hanna Paoh. Para gembala, majelis dan jemaat bersatu dalam doa serta penguatan iman bagi keluarga besar Daisuli.
Almarhum merupakan anak pertama dari empat bersaudara, putra dari pasangan Paulus Dahoklory dan Herdilina Manana ( Inah ).
Masa kecilnya dijalani dengan berpindah-pindah tempat tinggal mengikuti tugas orang tuanya sebagai aparat negara pada Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), yang kini dikenal sebagai Komando Pasukan Khusus (Kopassus), pasukan elit TNI AD yang dikenal dengan Baret Merah.

Ia pernah tinggal di Asrama Kopassus Bandung, Asrama Kopassus Cijantung Jakarta, dan beberapa daerah lainnya. Kehidupan yang penuh dinamika tersebut membentuk karakter almarhum menjadi pribadi yang disiplin, tangguh dan mudah beradaptasi.
Dalam kehidupan keluarganya, almarhum meninggalkan seorang istri tercinta Flory /Tuty, tiga orang anak yakni Ricad Iyes dan Glory, satu orang menantu, serta dua orang cucu.
Sebagai suami, ayah dan opa, almarhum dikenal penuh kasih, tanggung jawab dan perhatian kepada keluarga.
Tangis haru mengiringi prosesi penghormatan terakhir. Namun di tengah kesedihan, doa penghiburan yang dipanjatkan bersama menjadi kekuatan rohani bagi keluarga yang ditinggalkan.
Dalam khotbahnya, Pendeta Semuel Blegur menyampaikan pesan firman Tuhan yang meneguhkan:
“Kita berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah” (Kejadian 3:19).
Tuhan Yesus berkata dalam Yohanes 11:25, “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati.”
Hari ini kita menyerahkan kembali Saudara Nusye Resye Dahoklory ke dalam tangan Tuhan. Tuhan yang memberi, Tuhan pula yang mengambil, terpujilah nama Tuhan. Bagi orang percaya, kematian bukanlah akhir, melainkan awal kehidupan yang kekal.”
Pesan tersebut membawa keteduhan dan pengharapan bagi seluruh jemaat yang hadir, khususnya keluarga besar Daisuli yang tengah berduka.
Atas nama keluarga besar Dahoklory dan keluarga besar Daisuli, kami menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh jemaat, para gembala, majelis gereja, sahabat, kerabat dan masyarakat yang telah hadir serta memberikan doa dan dukungan.
Terima kasih secara khusus kepada Pendeta Semuel Blegur, Ibu Pdt. Sarah Blegur, Pdm. Semuel Blegur, serta jemaat dari Gereja Katolik Santo Fransiskus Xaverius, Gereja Kristen Getsemani, Jemaat Hosea, GBI Rezing dan Gereja Kemah Injil Indonesia Jemaat Soli Deo yang telah menguatkan kami sejak masa persemayaman hingga pemakaman berlangsung dengan baik.
Kami juga memohon maaf apabila selama hidup almarhum terdapat kesalahan dan kekhilafan. Kiranya segala perhatian dan kebaikan yang diberikan dibalas Tuhan dengan berkat dan damai sejahtera.
“Berbahagialah orang yang mati dalam Tuhan” (Wahyu 14:13).
(Liputan Khusus – Media Warta Nusantara Digital Group)
(Red)
